Menyoal Urgensi Masa Jabatan Kepala Desa dan Revisi UU Desa

- Rabu, 25 Januari 2023 | 12:28 WIB
Demo kepala desa di Gedung DPR RI
Demo kepala desa di Gedung DPR RI

Koransaku. Tak seperti biasanya, Selasa (17/1/2023), depan Gedung Wakil Rakyat di Senayan dipenuhi warna cokelat. Ribuan Kepala Desa se-Indonesia melakukan aksi, mereka menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa yang sebelumnya enam tahun menjadi sembilan tahun.

Karena itu, para kepala desa mendesak agar DPR segera melakukan revisi pasal 39 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Demo Kepala Desa menuai banyak kritik dari eleman masyarakat, bahwasanya aksi perpanjangan jabatan kepala desa hanyalah demi kepentingan kepala desa bukan masyarakat.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mewacanakan perpanjangan masa jabatan kepala desa dari enam menjadi sembilan tahun, didasari oleh dua hal, yaitu: Pertama, produktifitas Kepala Desa.

Dengan masa jabatan 9 tahun, kepala desa memiliki waktu lebih banyak untuk mensejahterakan masyarakat dan pembangunan desa lebih efektif. Perpanjangan masa jabatan bukan bentuk arogansi, tetapi kebutuhan menyelesaikan konflik pasca pilkades.

Perpanjangan masa jabatan kades tetap dibatasi selama 18 tahun atau dua periode; Kedua, Meredam ketegangan dan polarisasi politik pasca Pilkades. Selama ini masyarakat sering terbelah akibat perbedaan pilihan calon kepala desa dan berdampak pada berkurangnya produktifitas masyarakat serta banyaknya aktifitas desa terbengkalai. Ketegangan dan polarisasi dapat diredam jika masa jabatan kepala desa ditambah.

Setidaknya dua wacana tersebut digulirkan sebagai pintu masuk mendorong percepatan revisi undang-undang Nomor 6 Tahun 2014.

Pertanyaannya, apakah revisi Undang- Undang Desa sudah mendesak dilakukan? Apakah telah dilakukan kajian mendalam dan komprehensif terhadap implementasi UU Desa yang telah berjalan selama ini, sehingga muncul kebutuhan mendesak revisi UU Desa?

Menyikapi hal tersebut, Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi (Seknas FITRA) bersama Simpul Jaringan (Sijar) berpandangan bahwa revisi Undang-Undang Desa saat ini belum mendesak dilakukan.

Halaman:

Editor: Beny Kawistoro

Tags

Terkini

Banser Turut Amankan Pawai Cap Go Meh di Singkawang

Minggu, 5 Februari 2023 | 15:16 WIB

Festival Cap Go Meh Singkawang bawa berkah Ojol Grab

Minggu, 5 Februari 2023 | 12:09 WIB

PP Muhammadiyah tetapkan 1 Ramadhan 2023

Jumat, 3 Februari 2023 | 15:47 WIB

Sri Mulyani Jadi Gubernur BI? , Ini Pengakuannya

Rabu, 1 Februari 2023 | 12:36 WIB

Masjid Baiturrahman Marhaban Rayakan Isra Mi'raj

Selasa, 31 Januari 2023 | 10:46 WIB

Tim Gabungan Amankan 2,67 Kg Narkoba di Entikong

Sabtu, 28 Januari 2023 | 12:43 WIB